18
Sep

Perinus Siap Jadi Penyangga Sektor Perikanan

Beritasatu.com – PT Perikanan Nusantara (Perinus) siap menjadi penyangga sektor perikanan, berperan seperti Perum Bulog yang menjadi penyangga stok beras nasional. Untuk itu, perusahaan terus meningkatkan kapasitas, termasuk sarana produksi di seluruh daerah cabang Perinus.

Direktur Utama Perinus Usman Perdanakusuma mengatakan, tahun ini perseroan memiliki 15 unit sarana produksi yang terdiri atas kapal penangkap, kapal pengumpul, pabrik es, docking, serta sarana pengolahan termasuk gudang pendingin (cold storage). “Kami memiliki kapasitas untuk menjalankan peran semacam Bulog di sektor perikanan,” kata dia di Jakarta, Minggu (14/2).

Usman menambahkan, peningkatan kapasitas dan revitalisasi sarana produksi dilakukan untuk menangkap peluang di sektor perikanan nasional. Yakni, bertambahnya populasi ikan yang semakin besar sebagai dampak positif moratorium perizinan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Dengan menjadi penyangga, ke depan kami juga akan memperkuat pemasaran. Kami juga akan menyerap maksimal ikan para nelayan,” ungkap Usman.

Menurut Usman, pihaknya akan bekerja sama dengan Bank BRI untuk pembelian ikan dari nelayan dengan sistem nontunai. Perinus juga akan membahas dengan KKP terkait rencana menjadi avalis untuk kredit usaha rakyat (KUR) nelayan. “Kami akan beli ikan nelayan dengan harga baik. Sekarang kami sedang mendata nelayan, bekerja sama dengan kelompok dan koperasi nelayan. Pada 2017, kami menargetkan membeli ikan nelayan sebanyak 50 ribu ton,” jelas dia.

Usman menuturkan, dengan skema tersebut maka tidak ada lagi rente yang masuk ke nelayan. Nelayan pun tidak harus menjual ikannya kepada Perinus, tapi BUMN tersebut memastikan bahwa harga pembelian yang berlaku akan sesuai mekanisme pasar.

“Menjalankan peran seperti halnya Bulog, itu linier dengan pemasaran kami yang progresif, baik di dalam maupun luar negeri. Kami akan bersinergi dengan KKP untuk mengakses pasar. Yang jelas, pasar di dalam negeri saja sudah luar biasa. Filosofi intinya adalah agar harga di tingkat nelayan tidak jatuh dan memperkecil kesenjangan yang dialami nelayan selama ini. Untuk menjalankan peran stabilisator tersebut, kami akan menjadi garda depan di sektor perikanan,” kata Usman.

Usman menambahkan, Perinus juga siap berkomitmen untuk menjalankan program poros maritim dan memacu pertumbuhan sektor perikanan. Untuk mewujudkan hal itu, salah satu yang harus menjadi perhatian adalah terkait biaya operasional nelayan yang sebagian besar adalah untuk bahan bakar minyak (BBM), es, dan makan mereka saat perjalanan (melaut).

Perinus, kata Usman, pihaknya bisa mengambil alih beban nelayan tersebut. Selama ini memang baru sekitar 50% tempat pelelangan ikan (TPI) yang mempunyai BBM solar. Sementara BBM merupakan wewenang Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero). “Sebagai BUMN perikanan yang juga memiliki sistem logistik, kami mampu untuk itu. Skimnya nanti bisa dibahas dengan KKP. Yang jelas ini akan sejalan dengan desain KUR dan strategis pengembangan yang dijalankan oleh Perinus,” kata Usman.

Leave a Reply