18
Sep

Pembangunan Pabrik Bisa Tekan Impor Garam

Medanbisnisdaily.com – Hingga kini, Indonesia yang dua pertiga wilayahnya merupakan lautan, masih mengimpor garam untuk kebutuhan industri. Sayangnya, untuk membangun pabrik pengolahan garam untuk industri di Indonesia sulitnya luar biasa.

Contohnya PT Garam (Persero), BUMN yang bergerak di industri garam. Direktur Utama PT Garam, Usman Perdanakusuma mengatakan, sudah lama pihaknya berencana bangun pabrik dan lahan pengolahan garam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun masalah lahan tak kunjung selesai.

Lahan milik swasta yang akan digunakan oleh PT Garam untuk pabrik tersebut, harus diubah dulu fungsinya menjadi lahan terlantar, baru bisa dipakai. Seharusnya ini bisa segera diselesaikan, karena cukup memalukan bila Indonesia masih bergantung pada impor garam. “Kami mau pakai, kan otomatis harus ada pengesahan dulu dari Kementerian Agraria dan Pertanahan dulu. Masalahnya itu kita nggak dikasih-kasih dari dulu. Itu hambatanya, kami mau bangun industri garam di situ bagaimana kalau izin lahannya saja belum boleh. Dan itu ditunda lama sekali,” jelas Usman, Jumat (7/8).

Soal rencana penggunaan lahan ini, sudah diajukan berkali-kali oleh PT Garam kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), namun belum juga ada perubahan. “Sudah sejak 6 bulan lalu kami sampaikan, jangan lama-lama. Kami tidak bisa menunggu lama, karena kami juga sudah punya rencana bisnis buat kembangkan lahan itu buat sentra produksi garam sama pabrikannya,” ujar Usman.

Soal lahan ini, juga dialami oleh investor asal Australia yang juga tak kunjung bisa membangun pabrik dan pengolahan garam di NTT. Bahkan sudah 5 tahun, rencana investor Australia itu tak kunjung disambut. Ada apa ya? Luas lahan yang akan digunakan untuk pabrik oleh PT Garam ini secara keseluruhan 6.000 hektar. Lahan ini untuk membuat pabrik garam industri dan farmasi yang saat ini masih diimpor Indonesia. Nilai investasinya mencapai Rp 1 triliun dengan produksi 600.000 ton per tahun.

Soal impor garam ini sempat membuat geram Menteri Keluatan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Ini terkait Izin impor garam yang sudah diterbitkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) ke importir, yang sudah setara 75% dari kebutuhan impor garam industri tahun lalu. Tercatat Januari hingga 30 Juni 2015 telah diterbitkan izin impor garam sebanyak 1,506 juta ton. Padahal, Susi sudah mendesak Kemendag untuk mengurangi impor garam sejak awal 2015 sebesar 1 juta ton atau 50%. Tahun lalu realisasi impor garam sepanjang tahun 2014 hanya sekitar 2,2 juta ton.

Leave a Reply